Karena selama kita tidak bercakap tentang 'kita', maka segalanya akan baik-baik saja.*
Perempuan itu terhenyak. Sebuah kutipan dari kompilasi tulisan blogger senior favoritnya ternyata menjadi kenyataan. Semalam mereka bertengkar. Tidak cukup parah untuk membuatnya menangis tersedu-sedu seperti pertengkarannya dengan lelaki terdahulu, namun tetap saja mampu menghancurkan suasana hatinya secara tiba-tiba.
Sungguh, perempuan itu sudah berusaha mengerti. Berulang kali ia menepis jauh-jauh pikiran negatif yang begitu senang dibisikkan oleh setan. Menghibur perasaannya dengan berkata bahwa lelakinya hanya terlalu sibuk, bukan berarti tidak peduli. Bahwa mereka masih baik-baik saja, dan akan selalu seperti itu. Ia harus berhati-hati menyikapi hubungannya. Karena sekali saja salah, bisa jadi apa yang sudah mereka bangun bertahun-tahun hancur menjadi reruntuhan tak berguna. Usang, siap dibuang.
Tapi bukankah terlalu hati-hati itu justru membosankan?
Sekali lagi, salahkan gen dramatis yang dibawanya sejak lahir. Ia tidak meminta banyak. Lima dari seribu empat ratus empat puluh menit waktu yang dimiliki lelakinya, untuk sekedar saling menyapa lewat telepon. Setidaknya, itu akan sedikit memangkas lima ratus dua belas kilometer jarak yang memisahkan mereka berdua. Ia bahkan bersedia meringankan tuntutannya dari lima menjadi tiga menit, jikalau lelakinya merasa keberatan. Toh ia pun sudah terbiasa berkompromi dengan mention-mention yang tak pernah dibalas. Atau membuang gengsi demi secuil perhatian yang ia berikan untuk lelaki yang disayanginya. Agar lelakinya tau bahwa hubungan mereka nyata, bukan sekedar status di situs jejaring sosial, kata perempuan itu.
Detik berikutnya ia menyadari sesuatu telah terjadi: mereka tidak sedang baik-baik saja. Barangkali ia meminta terlalu banyak, mengerti terlalu sedikit, atau mengikat terlalu kencang. Lelakinya bilang ia lelah. Entah pada pekerjaannya, entah pada hubungan yang baru saja mereka mulai. Perempuan itu tau, kali ini mereka sudah hanyut terlalu jauh dalam permainan yang diciptakan sendiri. Sementara lelakinya belum cukup siap untuk memahami bahwa sebuah hubungan memiliki rentetan konsekuensi layaknya judi. Tidak ada jaminan, apalagi asuransi. Dan apa yang sedang mereka pertaruhkan saat ini, jauh lebih berharga dari lembaran rupiah yang mengisi rekening mereka setiap tanggal satu. Mereka tau itu.
... Dan semua mimpi buruk ini, ...., semuanya adalah semacam kutukan yang jatuh di atasku. Karena aku bertanya tentang kita. Are we together?*
Source: 28 Hari Untuk Selamanya, by @beradadisini dan @ndorokakung.

