May 29, 2012 4

Are We Together?

By Daisy in ,

Karena selama kita tidak bercakap tentang 'kita', maka segalanya akan baik-baik saja.*

Perempuan itu terhenyak. Sebuah kutipan dari kompilasi tulisan blogger senior favoritnya ternyata menjadi kenyataan. Semalam mereka bertengkar. Tidak cukup parah untuk membuatnya menangis tersedu-sedu seperti pertengkarannya dengan lelaki terdahulu, namun tetap saja mampu menghancurkan suasana hatinya secara tiba-tiba.

Sungguh, perempuan itu sudah berusaha mengerti. Berulang kali ia menepis jauh-jauh pikiran negatif yang begitu senang dibisikkan oleh setan. Menghibur perasaannya dengan berkata bahwa lelakinya hanya terlalu sibuk, bukan berarti tidak peduli. Bahwa mereka masih baik-baik saja, dan akan selalu seperti itu. Ia harus berhati-hati menyikapi hubungannya. Karena sekali saja salah, bisa jadi apa yang sudah mereka bangun bertahun-tahun hancur menjadi reruntuhan tak berguna. Usang, siap dibuang.

Tapi bukankah terlalu hati-hati itu justru membosankan?

Sekali lagi, salahkan gen dramatis yang dibawanya sejak lahir. Ia tidak meminta banyak. Lima dari seribu empat ratus empat puluh menit waktu yang dimiliki lelakinya, untuk sekedar saling menyapa lewat telepon. Setidaknya, itu akan sedikit memangkas lima ratus dua belas kilometer jarak yang memisahkan mereka berdua. Ia bahkan bersedia meringankan tuntutannya dari lima menjadi tiga menit, jikalau lelakinya merasa keberatan. Toh ia pun sudah terbiasa berkompromi dengan mention-mention yang tak pernah dibalas. Atau membuang gengsi demi secuil perhatian yang ia berikan untuk lelaki yang disayanginya. Agar lelakinya tau bahwa hubungan mereka nyata, bukan sekedar status di situs jejaring sosial, kata perempuan itu.

Detik berikutnya ia menyadari sesuatu telah terjadi: mereka tidak sedang baik-baik saja. Barangkali ia meminta terlalu banyak, mengerti terlalu sedikit, atau mengikat terlalu kencang. Lelakinya bilang ia lelah. Entah pada pekerjaannya, entah pada hubungan yang baru saja mereka mulai. Perempuan itu tau, kali ini mereka sudah hanyut terlalu jauh dalam permainan yang diciptakan sendiri. Sementara lelakinya belum cukup siap untuk memahami bahwa sebuah hubungan memiliki rentetan konsekuensi layaknya judi. Tidak ada jaminan, apalagi asuransi. Dan apa yang sedang mereka pertaruhkan saat ini, jauh lebih berharga dari lembaran rupiah yang mengisi rekening mereka setiap tanggal satu. Mereka tau itu.


... Dan semua mimpi buruk ini, ...., semuanya adalah semacam kutukan yang jatuh di atasku. Karena aku bertanya tentang kita. Are we together?*

Source: 28 Hari Untuk Selamanya, by @beradadisini dan @ndorokakung.

May 9, 2012 0

72 Jam

By Daisy in ,

Tujuh puluh dua jam sebelum bertemu denganmu. Rasanya ingin tertidur, dan saat bangun tau-tau sudah ada kamu di depanku. Andai sesederhana itu.
 

May 4, 2012 3

Mencoba, Bukan Sekedar Menunggu

By Daisy in , ,

Ada kalanya, saya suka menjadi pengamat. Duduk diam di pojokan, melihat orang berlalu lalang tanpa mereka sadari eksistensi saya. Ini bisa diartikan secara harfiah maupun tidak. Anggap saja saya sedang berada di sebuah sudut kafe dengan secangkir cokelat hangat yang tinggal setengah, sementara di luar hujan menancapkan jarumnya tanpa lelah.Ya ya ya, saya selalu suka deskripsi ini. Membayangkannya saja membuat saya merasa sangat nyaman.

Anyway, maksud dari kalimat "duduk diam di pojokan, melihat orang berlalu lalang tanpa mereka sadari eksistensi saya" yang lain adalah begini: saya suka mengamati sekeliling. Menyimak timeline tanpa berkomentar apa-apa. Rasanya lucu membaca orang-orang yang saling menyinyir dan menyindir secara no mention. Dari situ juga saya tau siapa sedang berkencan dengan siapa, yang ini baru putus dengan yang itu, sementara yang lain masih saja betah ter-friendzone-kan entah dari jaman kapan.

Lebih jauh lagi, saya berpikir bahwa hidup ini punya lelucon sendiri yang kadang terlalu lucu untuk ditertawakan. Ada yang sudah bertahun-tahun pacaran, namun gagal menikah karena hal sepele. Sebaliknya, beberapa orang bertemu jodohnya hanya dari sebuah sms nyasar, dikenalkan oleh temannya teman lewat facebook, bertemu, merasa klop, lalu menikah. Sesederhana itu. Tanpa ada hati yang ditangisi hingga bertahun-tahun berikutnya.

Kemudian saya menyimpulkan bahwa hidup memang sebuah pilihan. Seperti apa diri kita sekarang adalah akibat dari pilihan-pilihan yang telah kita lakukan di masa lalu. Saya suka membayangkan, apa jadinya saya kalau dulu saya tidak bertemu dengan kamu, dia, mereka, kalian, tidak mengalami ini, itu. Saya sempat mengalami jatuh berkali-kali, menangis, lalu berserapah. Pernah berada di titik di mana saya akhirnya memutuskan untuk menunggu. Diam, duduk di tempat. Sampai kemudian saya sadar bahwa menunggu tidak menyelesaikan masalah. Waktu mungkin bisa menyembuhkan saya, namun membiarkan diri saya seperti itu justru akan membuat saya kehilangan sisi manusiawi.

Seorang sahabat pernah berkata kepada saya, "lebih baik mencoba daripada menunggu". Dan itulah yang sedang saya lakukan sekarang. Mencoba memulai sebuah hubungan baru yang belum pernah saya alami sebelumnya: mengencani sahabat sendiri. Lucu. Saya suka tertawa kalau mengingat seperti apa dekatnya kami dulu sebagai sepasang sahabat, lalu tiba-tiba---voila! Saya menemukan bahwa dia sekarang adalah seseorang yang bisa saya kenalkan sebagai pacar. 

Yahh.. bagaimanapun juga, kita tak pernah tau jalan macam apa yang akan ditempuh kelak. Seperti apapun hubungan kami di masa yang akan datang, saya tau saya tidak akan menyesali saat ini. Hari ketika saya memilih untuk berhenti menunggu orang-orang yang tak pernah sadar bahwa mereka sedang ditunggu, kemudian menunjuk dia sebagai orang yang bisa saya percayai untuk menjaga hati saya. Ya, saya bahagia. Seperti yang dikatakan oleh The Wanted:
My universe will never be the same. I'm glade you came.
 Hey, terima kasih ya sudah bersedia menemani saya. :)

Apr 11, 2012 6

In a Relationship

By Daisy in , ,

Dating your best friend means you bet your friendship. You know the risk.

-Twitter, 10 April 2012-

Iya, saya tau.
Ketika kami memutuskan untuk mengubah label hubungan kami dari "Best Friend Forever" menjadi setingkat lebih tinggi, rentetan konsekuensi demi konsekuensi sudah mengantri. Saya tau, kelak kami harus lebih hati-hati. Apa yang sedang berusaha kami tumbuhkan perlahan, bukanlah sesuatu yang bisa kami buang dengan santai ketika bosan.

Banyak yang terkejut dengan keputusan yang kami buat. Timeline dipenuhi ucapan selamat dari para sahabat serta lantunan doa agar hubungan kami langgeng. Notifikasi facebook tak henti-hentinya mengabarkan komentar singkat teman-teman dari jauh. Sebagian besar tidak percaya hingga secara private meminta konfirmasi langsung dari kami. Rata-rata pertanyaannya sama: "Kok bisa?".

Entah. Kami pun tak menyangka drama yang awalnya kami mainkan untuk lucu-lucuan malah akhirnya kebablasan. Otak saya buru-buru berdialog dengan hati, "Why him?". Dan entah kenapa, hati saya dengan lancang balas bertanya, "Why not?". Iya juga sih. Kenapa tidak? Toh kami sama-sama single. Sama-sama available. Sama-sama pernah terluka. Kenapa tidak dicoba dulu pelan-pelan? Daripada galau sendiri-sendiri, kan?

Ah, saya tidak suka menyebut ini sebagai pelarian. Kami hanya ingin saling menyembuhkan, memperbaiki hati masing-masing yang sempat dihancurkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Membuat coretan demi coretan di lembar baru yang dulunya bersampulkan tulisan "sahabat". Sia-sia atau tidak, biarlah waktu yang bicara.

Mar 28, 2012 3

Jadi Mahasiswi Lagi

By Daisy in , ,

"Gimana rasanya jadi mahasiswi lagi?"

Ada satu kesan yang melekat erat di benak saya kalau disodori pertanyaan semacam itu: BEDA. Status mahasiswi saya sekarang tidak sama dengan dua tahun lalu. Saya bukan mahasiswi labil yang ke kampus buat main, ngeceng sana-sini, nongkrong nggak jelas. Nope. Kuliah setiap malam setelah sembilan setengah jam sebelumnya disita oleh pekerjaan kantor yang menumpuk, tentu feel-nya beda dengan kuliah pagi yang malemnya cuma begadang di timeline. Bisa dibilang, kehadiran saya di kelas hanya demi mengejar absensi. Jangan tanya apakah sistem ekonomi yang tepat untuk Perekonomian Indonesia, atau seberapa penting Manajemen Operasional untuk sebuah perusahaan. Yang saya tau hanyalah dosen Ekonomi Manajerial saya masih muda dan ganteng, serta sekelas dengan gebetan sekaligus gebetannya gebetan di Komunikasi Bisnis itu rasanya "eeerrr" banget. *sigh*

Seminggu pertama kuliah, saya langsung tepar. Ya gimana nggak kecapekan kalau pulang kantor langsung cabut ke kampus sampai jam 10 malam, lanjut nongkrong di tempat makan sampai tengah malam. Padahal kerjaan kantor sedang nggak nyantai sekali banyaknya. Makan juga nggak bener, suka telat dan sembarangan. Ditambah lagi, angin malam kan nggak baik untuk kesehatan.

Oke, itu masalah lain.

Yang jelas sih, kuliah yang sekarang itu memang beda jauh dengan dulu. Saya tidak sedang berada di kampus kedinasan dengan tingkat kesulitan bertahan level dewa dan ancaman drop out yang nggak main-main setiap semester. Ini adalah sebuah universitas swasta di mana mencontek saat ujian itu hukumnya halal. Bahwa dosen tidak peduli seberapa lama kita terlambat hadir di kelas beliau. No offense.

Dan saya merasa seperti sedang berada di tempat yang asing. In the middle of somewhere. Mungkin karena baru seminggu dan belum banyak teman. Datang mepet, duduk di bangku seadanya, sedikit chit-chat dengan teman sebelah kalau dia tampak ramah, absen, lalu pulang. Begitu seterusnya. Tidak ada cerita ketawa ngakak gegara kelakuan konyol teman sekelas, makan bareng sehabis kuliah, apalagi jalan-jalan atau nonton rame-rame. Everybody has his/her own business, and we're too tired to waste our precious time. Sounds bad, huh?

Yaaa namanya juga masih proses adaptasi. Toh dari awal tujuan saya kuliah bukan untuk hura-hura. Terus apa dong? Menuntut ilmu? Ah, mana mungkin orang seperti saya punya niat selurus itu. Mehehe. As I ever said, saya nekat kuliah demi membuat kebetulan-kebetulan kecil yang mempertemukan kami di koridor kampus. And being his classmate for one semester sounds great. Mission completed? Hmmm, not really, but it is good enough. Haha. Jatuh cinta emang bikin gila, ya? :)

Mar 20, 2012 4

Cosmological Coincidence

By Daisy in ,

BPPK.
Jogja.
Berkenalan denganmu, kemudian tergila-gila sampai nekat daftar kuliah semester ini tanpa persiapan apapun agar bisa dekat denganmu. Setidaknya, demi kebetulan-kebetulan kecil yang mempertemukan kita tanpa sengaja di koridor kampus.
Perasaan deg-degan luar biasa yang menyelinap diam-diam setiap kamu di dekatku.
Karcis bioskop yang masih tersimpan rapi di atas lemari.
Lantunan yang kita nyanyikan berdua dalam ruang karaoke berukuran kecil, diikuti kode "ehem" dari teman-teman kerjaku.
Suka,
suka sekali,
sayang,
lalu menyerah pada takdir yang sepertinya enggan menyatukan kita.

Hingga kemarin,
ketika kamu tiba-tiba muncul, menyapaku, sedikit berbasa-basi hingga aku tau bahwa kita akan jadi classmate selama satu semester ke depan. Padahal kita tidak berada di jurusan yang sama.

There must be something.

Aku selalu merasa ini bukan kebetulan biasa. Every single thing that happen leads me to you. Seperti ada invisible hands yang diam-diam merancang skenario pertemuan kita. Bahwa cosmological coincidence memang benar ada. Bahkan saat aku memutuskan untuk menganggapnya tak jauh beda dengan hal-hal mainstream lainnya, sesuatu terjadi seakan mengingatkanku untuk tidak menyerah sekarang.
Jangan.
Belum saatnya.



If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I could stay in your arms?

Mar 14, 2012 3

Kalau Kangen Ngapain?

By Daisy in ,

"Kamu kalau lagi kangen ngapain?", tanyamu. Satu dari sekian banyak pertanyaan yang kuciptakan sendiri atas namamu dalam imajinasiku.

"Buka facebook kamu. Baca-baca komentar orang di status yang kamu buat. Liatin foto kamu satu-satu, lama-lama. Thanks God kamu nggak bisa ngecek siapa aja yang suka stalking facebookmu. Kalau lagi di kamar ya buka kalender kampus yang ada foto kamu lagi senyum narsis. Terus merem, nginget-inget wajah kamu pas terakhir kita ketemu. Dan kalau udah kelewatan banget kangennya, nyari alasan apaa aja biar tetiba bisa nongol di kantor kamu. Kayak kemarin itu."

Kamu senyum-senyum.
Mukaku memerah karena malu.



Hey, aku kangen lagi! Jalan yuk! :)